Mahasiswa Bisa Menjadi Agen Perubahan Dalam Proses Demokrasi

JAKARTA, suarapers.com – Badan Pengawas Pemilihan Umum- Bawaslu menggelar kompetisi debat penegakan hukum pemilu yang diikuti mahasiswa dari 35 perguruan tinggi se-Indonesia. Kompetisi tersebut dilaksanakan mulai Sabtu hingga Senin, 14-16 Desember 2019 di Ancol, Jakarta Utara.

Dewan juri kompetisi debat pemilu berasal dari unsur akademisi, pengawas pemilu, dan pegiat pemilu yang berjumlah 24 orang. Untuk babak final ada lima orang juri yang akan menilai yaitu Prof. Dr. Muhamad,S.IP.,M.Si (Anggota DKPP RI), Prof. Dr. Siti Zuhro,MA.,Ph.D (peneliti LIPI), Dr. Khairul Fahmi,S.H.,M.H (akademisi), dan Titi Anggraeni,S.H.,M.H (Direktur Perludem).

Anggota Bawaslu RI Dr. Ratna Dewi Pettalolo, SH, MH -Divisi Penindakan, menuturkan tujuan debat ini untuk memberikan pemahaman terhadap mahasiswa, mengenai pemilu secara umum dan bagaimana kewenagan penegakan hukum pemilu yang diberikan kepada bawaslu sesuai dengan undang-undang no 7 tahun 2017

Selanjutnya, Bawaslu ingin menggali ide-ide, dan gagasan dari mahasiswa sebagai agen perubahan. Bagaimana mereka memberikan konsep-konsep dan gagasan-gagasan pembaharuan penegakan hukum pemilu.

Menurutnya, metode debat ini sangat efektif, untuk membangun senergitas dengan perguruan tinggi dalam penegakan hukum pemilu. Karena Mahasiswa memiliki posisi yang sangat strategis dalam proses pemilu.

Ada 9 tema yang di tampilkan dalam debat ini:
Mahar politik, politik uang, putusan penyelesaian administrasi pemilu oleh Bawaslu, pemidanaan pejabat negara dan kepala desa yang tidak netral, netralitas aparatur sipil negara dan setra gakkumdu, calon legislatif dan kepala daerah mantan narapidana, kemudian calon tunggal dalam pemilihan . inlah tema yang diperdebatkan dalam pro dan kontra.

“Idealnya kegiatan ini didesain secara berjenjang dari tingkat regional sampai tingkat pusat seperti yang dilakukan oleh Mahkamah Konstitusi,” ujar Ratna Dewi.

Ia melanjutkan, target kegiatan debat ini tidak hanya di wilayah lembaga bawaslu, tapi akan menjadi bagian dan perhatian dari perguruan tinggi, dan bisa membangkitkan minat mahasiswa terhadap topik penegakan hukum pemilu akan semakin tinggi, dan akan melahirkan karya-karya tulis baik yang berupa skripsi, tesis maupun disertasi soal penegagakan hukum pemilu dari kalangan akademisi.

Berharap kepada mahasiswa untuk memerankan peran strategis ini dengan baik kususnya dalam penegakan hukum pemilu. Bawaslu adalah tempat yang tepat untuk membentuk karakter mahasiswa yang sempurna dan mereka bisa menjadi agen perubahan dan pembaharuan dalam proses demokrasi di Indonesia.(Ros)